Menyapih yang Menantang

Hisham mau menginjak 2 tahun, udah saatnya disapih. Kami akhirnya memutuskan bahwa pas ulang tahun yang ke-2 dia harus sama sekali berhenti menyusui. Otomatis saya harus nyicil menyapihnya beberapa minggu sebelumnya.

Sebenarnya dalam hati masih belum terlalu rela menyapih dia, pertama karena saat menyusui lah saat saya merasa paling dekat dengannya. Saling pandang-pandangan dan berbicara pakai mata, priceless lah pokmen. Kedua karena menyusui adalah anugrah terbesar dalam membesarkan anak. Misalnya kalau anaknya lagi sakit dan susah makan, saya tidak terlalu khawatir selama dia menyusu. Kalau dia rewel, dinenenin paling gampang menenangkannya. Kalau saya merasa asupan makannya kurang oke (karena emaknya lagi malas masak yang sehat), akan tidak terlalu merasa bersalah selama dia tetap menyusui. Yang ketiga karena kalau nidurin dia jadi gampang, effortnya gak terlalu gede. Masalah nidurin anak adalah salah satu problem paling gede ibu yang punya bayi.
Tapi toh memang akhirnya harus berhenti juga ketika dia udah gede.

Kali ini saya mau sharing tips-tips aja deh, tentang apa saja yang saya lakukan dalam menyapih ini. Siapa tau berguna bagi ibu-ibu nubie seperti saya.

  1. Usahakan sebelum tidur malam dia benar-benar kenyang.
    Karena lapar membuat anak gampang terbangun dan merupakan alasan utamanya untuk minta susu. Pun ketika siang kan? Makan 3 kali sehari harus dipenuhi dan mencari susu pengganti. Saya pakai susu kotakan dan diusahakan pakai sedotan, biar dia tidak tergantung sama dot.

  2. Sediakan air putih di sisi tempat tidur.
    Ketika dia terbangun dan minta nenen, tawarkanlah selalu air putih tersebut. Buat Hisham ini manjur banget. Karena entah mungkin karena haus atau terdistraksi sedotan, akhirnya dia mau minum dan sesudah minum biasanya dia tidur lagi.

  3. Tega.
    Memang ini yang paling susah sih. Membiarkan dia menangis dan tidak mendapatkan yang dia mau itu memang memilukan hati. Beberapa kali saya akhirnya menyerah karena tidak tahan mendengar dia menangis terus. Jadinya proses penyapihan tidak berlangsung maksimal. Ketika saya benar-benar tega baru akhirnya berhasil.

  4. Dukungan suami.
    Saya benar-benar butuh back-up ketika penyapihan ini, terutama dukungan mental....dan fisik, tentunya. Secara emosional saya terbawa ke kondisi dia yang cranky ini. Jika dia uring-uringan saya kadang ikut terbawa suasana, nah suami dibutuhkan saat ini, biar ada yang menetralkan keadaan.

  5. Persiapkan fisik.
    Karena gara-gara ini pasti ayah-ibunya akan begadang. Ketika menenangkan dia menangis sewaktu tidak diberi ASI biasanya ada aja yang musti dilakuin. Hisham biasanya pengen dibawa keluar kamar, akhirnya digendong dan dipuk-puk di ruangan depan tv, dan akhirnya tertidur di sana. Makanya belakangan selalu ada kasur lipat di depan tv.

  6. Komitmen.
    Jangan kalah sama anak bayi. Ingat. Jangan tergoda dengan muka memelasnya yang unyu itu ketika meminta susu. Itu godaan terberat.

Akhirnya kira-kira 4 hari, penyapihan full tanpa cheating berhasil. Huraaaaaay! PR baru adalah bobok siang. Tapi nanti kita cari caranya deh :)